1 Uraian

DALIL LARANGAN RIBA

1. Jual beli halal, riba haram

Dalil utama

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Sumber: QS. al-Baqarah [2]: 275. 

Ini merupakan dalil qath‘i mengenai larangan riba.

2. Perintah meninggalkan riba

Dalil

وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang beriman.”

Sumber: QS. al-Baqarah [2]: 278. 

3. Larangan mengambil lebih dari pokok modal

Dalil

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Bagimu pokok hartamu; kamu tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi.”

Sumber: QS. al-Baqarah [2]: 279. 

Pemahaman

Ayat ini sangat penting dalam konstruksi hukum pembiayaan.

Prinsip yang dapat ditarik:

pokok modal adalah hak kreditur, sedangkan tambahan yang dipersyaratkan atas pinjaman karena faktor waktu merupakan persoalan riba.

Ayat tersebut juga menegaskan prinsip:

لا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Tidak menzalimi dan tidak dizalimi.”

Jadi hukum ekonomi syariah berupaya menciptakan 

keseimbangan antara perlindungan pemilik modal dan perlindungan pihak yang membutuhkan pembiayaan.