1 Uraian

Harta tidak boleh diperoleh dengan cara batil

Dalil

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”

Sumber: QS. al-Nisā’ [4]: 29. 

Pemahaman yang diperoleh

Ayat ini merupakan salah satu fondasi utama hukum ekonomi syariah. Setidaknya terdapat dua prinsip:

  1. Larangan memperoleh harta secara batil, yaitu melalui cara yang tidak dibenarkan syariat. 
  2. Keabsahan perdagangan atas dasar kerelaan (‘an tarāḍin minkum). 

Namun, perlu ditegaskan bahwa kerelaan saja belum cukup. Para pihak boleh sama-sama rela, tetapi objek atau cara transaksinya tetap dapat haram. Misalnya, transaksi yang mengandung riba atau objek haram.

Dengan demikian:

Kerelaan adalah syarat penting, tetapi bukan satu-satunya syarat kehalalan transaksi.